| Demam Berdarah Dengue (2) |
|
| Ditulis oleh Nita, Khuswatun, dkk | |||||
| Jumat, 05 Pebruari 2010 00:46 | |||||
|
Pengendalian Populasi Aedes sp
Strategi pemberantasan DBD lebih ditekankan pada upaya preventif, melaksanakan penyemprotan massal sebelum musim penularan di daerah endemis, yang merupakan pusat penyebaran penyakit ke wilayah lainnya. Strategi itu diperkuat dengan menggalakkan pembinaan peran serta masyarakat, dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, melaksanakan penanggulangan fokus di rumah penderita dan disekitar tempat tinggal penderita guna mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), dan melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat melalui berbagai media(Sungkar, 2005b).
Pemberantasan vektor terutama ditujukan untuk memutuskan rantai penularan. Pada dasarnya ada 3 cara intervensi yang biasa digunakan: pengelolaan lingkungan, biologik dan kimiawi (Sugito, 1990). Pengelolaan lingkungan ini adalah mengusahakan agar kondisi lingkungan tidak atau kurang disenangi nyamuk sehingga umur nyamuk berkurang dan tidak mempunyai kesempatan untuk menularkan penyakit atau mengusahakan agar kontak antara nyamuk dan manusia berkurang serta menghalangi proses perkembangbiakan nyamuk. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan menambah pencahayaan ruangan, mengurangi tanaman perdu, tidak membiasakan menggantung pakaian, menutup kontainer, menguras kontainer secara rutin, dan lain-lain (Sugito, 1990).
Intervensi biologis dilakukan dengan memanfaatkan musuh-musuh nyamuk yang ada di alam. Ikan kepala timah dan beberapa jenis ikan hias serta larva Toxorhinchites spp diketahui merupakan predator jentik nyamuk (Sugito, 1990). Intervensi kimiawi adalah pemberantasan nyamuk dengan menggunakan bahan kimia. Bahan kimia yang banyak digunakan adalah golongan organofosfat. Malathion digunakan untuk memberantas nyamuk dewasa, sedang temephos digunakan untuk jentiknya (Sugito, 1990)
1. Survei larva Survei adalah penyelidikan informasi secara sistematis tetapi tidak menggunakan metode eksperimental (Abramson, 1984). Survei entomologi DBD yang mempelajari ekologi vektor, cara pemberantasan vektor dan cara-cara menilai hasil pemberantasan vektor, diperlukan untuk menunjang keberhasilan pemberantasan nyamuk vektor (Depkes RI, 1990). Pengamatan vektor harus dilakukan secara rutin meliputi studi ekologi dan epidemiologi. Secara khusus hal-hal yang harus diperoleh di survei vektor DBD adalah: a. Menentukan daerah yang berisiko tinggi (daerah dengan kepadatan vektor tinggi dan kasus endemik tinggi) dengan cara menentukan area berdasarkan distribusi vektor dan adanya kasus DBD, sehingga area ini dapat diberikan prioritas penanganan baik pada situasi normal maupun pada saat wabah terjadi. b. Melalui pengamatan rutin perubahan dalam kepadatan vektor, distribusi dan parameter lain yang berhubungan dengan kapasitas vektorial. c. Menentukan fluktuasi jumlah populasi vektor berdasarkan musim. d. Menentukan tempat perkembangbiakan utama nyamuk (breeding sites) sehingga dengan partisipasi masyarakat, breeding sites dapat dieliminasi (Pant and Self, 1993). Secara garis besar survei vektor DBD dapat dibedakan menjadi survei larva dan survei nyamuk dewasa.Ada dua jenis metode survei larva, yaitu: Metode Survei Jentik: 1) Single larva Cara ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut. 2) Visual Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Ukuran-ukuran yang digunakan untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti: (a) Angka Bebas Jentik (ABJ): Jumlah rumah tidak di temukan jentik X100% Jumlah rumah yang diperiksa (b) House indeks (HI) Jumlah rumah yang di temukan jentik X100% Jumlah rumah yang diperiksa (c) Container index (CI) Jumlah Container dengan jentik X 100% Jumlah Container yang diperiksa (d) Breteau index (BI) yaitu jumlah wadah yang positif terdapat jentik dalam 100 rumah. Container: tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat berkembang-biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Angka Bebas Jentik dan House Index lebih menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk di suatu wilayah. House index kurang dari 10% menggambarkan kecepatan penularan DBD rendah, sedangkan jika house index lebih dari 10% menggambarkan potensial terjadinya penularan DBD.
Silahkan Login untuk menulis komentar pada artikel ini, atau klik menu "Daftar Member" bagi yang belum menjadi anggota agar anda bisa mengirim artikel atau komentar di situs ini
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |