Jum
05
Peb
2010

Demam Berdarah Dengue

Written by Nita, Khuswatun, dkk Published in: Kesehatan Comments 0 PDF Pdf Print Print Email Email

Epidemiologi Demam Berdarah Dengue

 

Wabah Dengue pertama kali ditemukan di dunia tahun 1635 di Kepulauan Karibia dan selama abad 18, 19 dan awal abad 20, wabah penyakit yang menyerupai Dengue telah digambarkan secara global di daerah tropis dan beriklim sedang. Vektor penyakit ini berpindah dan memindahkan penyakit dan virus Dengue melalui transportasi laut. Seorang pakar bernama Rush telah menulis tentang Dengue berkaitan dengan break bone fever yang terjadi di Philadelphia tahun 1780. Kebanyakan wabah ini secara klinis adalah demam Dengue walaupun ada beberapa kasus berbentuk haemorrhargia. Penyakit DBD di Asia Tenggara ditemukan pertama kali di Manila tahun 1954 dan Bangkok tahun 1958 (Soegijanto S., Sustini F, 2004) dan dilaporkan menjadi epidemi di Hanoi (1958), Malaysia (1962-1964), Saigon (1965), dan Calcutta (1963) (Soedarmo, 2002).

 

DBD di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh tahun 1970. Kasus pertama di Jakarta dilaporkan tahun 1968, diikuti laporan dari Bandung (1972) dan Yogyakarta (1972) (Soedarmo, 2002). Epidemi pertama di luar Jawa dilaporkan tahun 1972 di Sumatera Barat dan Lampung, disusul Riau, Sulawesi Utara, dan Bali (1973), serta Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Barat (1974). DBD telah menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia sejak tahun 1997 dan telah terjangkit di daerah pedesaan (Suroso T, 1999). Angka kesakitan rata-rata DBD di Indonesia terus meningkat dari 0,05 (1968) menjadi 8,14 (1983). Selama awal tahun epidemi di setiap negara, penyakit DBD ini kebanyakan menyerang anak-anak dan 95% kasus yang dilaporkan berumur kurang dari 15 tahun. Walaupun demikian, berbagai negara melaporkan bahwa kasus-kasus dewasa meningkat selama terjadi kejadian luar biasa (Soegijanto S., 2004).

 

Sepanjang tahun 2007 dilaporkan terjadi 158.115 kasus. Incidence Rate (IR) pada tahun 2007 sebesar 71,78 per 100.000 penduduk dengan CFR sebesar 1,01%. Propinsi DKI Jakarta merupakan wilayah dengan IR tertinggi sebesar 392,64 per 100.000 penduduk. Propinsi lain dengan IR tinggi yatu Bali sebesar 193,18 dan Kalimantan Timur sebesar 193,15 per 100.000 penduduk. Propinsi dengan angka kematian tertinggi sepanjang tahun 2007 adalah Papua sebesar 3,88% diikuti oleh propinsi Maluku Utara dan Bengkulu masing-masing sebesar 2,55% (Depkes, 2007). Sepanjang tahun 2007 terdapat 11 propinsi yang dilanda KLB DBD, yaitu: Jawa barat, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kaltim, Sulsel, Sulteng, Jatim, Banten, dan DI Yogyakarta.

 

Cara Penularan Virus Dengue

Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti betina yang telah terinfeksi virus dengue pada waktu menghisap darah penderita yang sedang berada dalam fase viremia. Setelah mengalami masa inkubasi ekstrinsik selama 8-10 hari, kelenjar ludah nyamuk yang bersangkutan mengandung virus dengue yang siap ditularkan kepada orang lain melalui luka gigitan (ketika menggigit, nyamuk mengeluarkan ludah yang mengandung virus dengue ke dalam luka gigitan). Setelah mengalami masa inkubasi di dalam tubuh manusia selama 3-14 hari (rata-rata 4-6 hari), muncul gejala mendadak berupa demam, pusing, mialgia, hilang nafsu makan, mual, muntah dan rash pada kulit (Djunaedi, 2005).

 

Kontak antara vektor dengan pejamu terjadi akibat aktivitas vektor dalam mencari mangsa. Salah satu aspek penting dari kebiasaan makan vektor adalah kesukaan terhadap pejamu tertentu. Dalam hal ini, Ae. aegypti tergolong antropofilik walaupun terdapat pejamu alternatif. Ae. aegypti memiliki kebiasaan menggigit berulang, yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu relatif singkat. Hal ini disebabkan karena Ae. aegypti sangat sensitif dan mudah terganggu (Sholihin, 2004).

 

Ekologi dan Bionomik Aedes sp

Eksistensi Ae. aegypti di alam dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan biologik. Nyamuk ini tersebar diantara garis isoterm 20ºC antara 45ºLU dan 35ºLS, pada ketinggian kurang dari 1000 m dari permukaan laut. Ekologi vektor mempelajari hubungan antara vektor dengan lingkungannya dan mempelajari bagaimana pengaruh lingkungan terhadap vektor. Bionomik vektor merupakan karakteristik nyamuk yang berhubungan dengan kesenangan tempat perkembangbiakan, kesenangan menggigit, kesenangan tempat hinggap istirahat dan jarak terbang (Sugito, 1990).

 

Telur Ae. aegypti berbentuk lonjong seperti torpedo; panjangnya ± 0,6 mm dan beratnya 0,0113 mg. Pada waktu diletakkan telur berwarna putih, 15 menit kemudian telur menjadi abu-abu dan setelah 40 menit menjadi hitam. Telur diletakkan satu-persatu di dinding kontainer 1-2 cm di atas permukaan air. Air di dalam tempat tersebut adalah air jernih dan terlindung dari cahaya matahari langsung. Tempat air di dalam rumah lebih disukai daripada di luar rumah, dan tempat air yang lebih dekat rumah lebih disukai daripada yang lebih jauh dari rumah. Telur dapat bertahan sampai 6 bulan (Sungkar, 2005a). Telur berupa elips mempunyai permukaan yang poligonal (Brown, 1983). Telur Ae. aegypti Ae. aegypti mempunyai dinding yang bergaris-garis dan membentuk bangunan menyerupai gambaran kain kasa (Gandahusada et al, 2000).

           

4b6

 

Gambar 6. Telur Ae. aegypti (Anonim, 1998a)

 

Larva Ae. aegypti terdiri atas kepala, toraks dan abdomen. Pada ujung abdomen terdapat segmen anal dan sifon. Larva instar IV mempunyai tanda khas yaitu pelana yang terbuka pada segmen anal, sepasang bulu sifon pada sifon, dan gigi sisir yang berduri lateral pada segmen abdomen ke-7 (Sungkar, 2005a).

 

Untitled-1 copy

 

Gambar 7. Tanda khas larva Ae. aegypti dan Ae. albopictus (Anonim, 2004)

Larva Ae. albopictus sama dengan larva Ae. aegypti namun tidak memiliki duri lateral pada gigi sisirnya (Prianto et al, 2002). Larva Ae. aegypti bergerak sangat lincah dan sensitif terhadap rangsangan getaran dan cahaya. Bila ada rangsangan, larva segera menyelam selama beberapa detik kemudian muncul kembali ke permukaan air. Larva mengambil makanannya di dasar kontainer sehingga disebut pemakan makanan di dasar (bottom feeder). Pada saat larva mengambil oksigen di udara, larva menempatkan sifonnya di atas permukaan air sehingga abdomennya terlihat menggantung pada permukaan air (Sungkar, 2005a). Larva mengalami 4 masa pertumbuhan yang ditandai dengan pergantian kulit. Stadium adalah waktu antara pergantian kulit ke pergantian kulit berikutnya. Instar adalah bentuk larva antarstadium. Masing-masing instar ukuran dan bulunya berbeda dan belum ada perbedaan jantan dan betina (Sugito, 1990)

 

oc_camp_larvae_group

Gambar 8. Larva Aedes sp.(Anonim, 1998b)

 

Pupa terdiri atas sefalotoraks, abdomen dan kaki pengayuh. Sefalotoraks mempunyai sepasang corong pernafasan yang berbentuk segitiga. Pada bagian distal abdomen ditemukan sepasang kaki pengayuh yang lurus dan runcing. Jika terganggu, pupa akan bergerak cepat untuk menyelam selama beberapa detik kemudian muncul kembali ke permukaan air (Sungkar, 2005a).

 

aedes_aegypti_pupa

 

Gambar 9. Pupa Ae. aegypti (Anonim, 1998b)

 

Bagian nyamuk dewasa terdiri atas kepala, toraks, dan abdomen. Tanda khas Ae. aegypti berupa gambaran lyre pada bagian dorsal toraks (mesonotum) yaitu sepasang garis putih sejajar di tengah dan garis lengkung putih yang lebih tebal pada tiap sisinya. Probosis berwarna hitam, skutelum bersisik lebar berwarna putih dan abdomen berpita putih pada bagian basal.(Sungkar, 2005a).

                                   

Gambar 10. Nyamuk Ae. aegypti dewasa(IRI, 2004)

                                                                                                          

Setelah nyamuk betina meletakkan telurnya pada dinding kontainer, telur akan menjadi larva dalam waktu 1-2 hari, selanjutnya akan berubah menjadi pupa dalam waktu 5-15 hari. Stadium pupa biasanya berlangsung 2 hari. Dalam suasana optimum, perkembangan telur sampai dewasa memerlukan waktu sekurang-kurangnya 9 hari. Setelah keluar dari pupa, nyamuk beristirahat di kulit pupa untuk sementara waktu. Pada saat itu sayap meregang menjadi kaku dan kuat sehingga nyamuk mampu terbang untuk mengisap darah. Nyamuk betina yang telah dewasa siap untuk mengisap darah manusia dan kawin sehari atau dua hari sesudah keluar dari pupa (Sungkar, 2005a).

 

Pupa jantan menetas lebih dahulu dari pupa betina. Nyamuk jantan tidak pergi jauh dari tempat perkembangbiakan karena menunggu nyamuk betina menetas dan siap berkopulasi. Sesudah berkopulasi, Ae. aegypti mengisap darah yang diperlukannya untuk pembentukan telur. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur, mulai dari nyamuk mengisap darah sampai telur dikeluarkan biasanya bervariasi antara 3-4 hari. Jangka waktu tersebut disebut satu siklus gonotropik. Jumlah telur yang dikeluarkan nyamuk betina kurang lebih 150 butir (Sungkar, 2005a).

 

Ae. aegypti biasanya bertelur pada sore menjelang matahari terbenam. Setelah bertelur, nyamuk betina siap mengisap darah lagi. Bila nyamuk terganggu pada waktu mengisap darah, nyamuk akan menggigit kembali orang yang sama atau lainnya sehingga virus dipindahkan dengan cepat kepada beberapa orang (Sungkar, 2005a). Frekuensi bertelur sekitar 2 atau 3 hari sekali (Sugito, 1990). Umumnya nyamuk betina akan mati dalam 10 hari, tetapi masa tersebut cukup bagi nyamuk untuk inkubasi virus (3-10 hari) dan menyebarkan virus (Sungkar, 2005a).

Ae. aegypti aktif mengisap darah pada siang hari dengan dua puncak aktivitas, yaitu pada pukul 08.00-12.00 dan 15.00-17.00. Ae. aegypti lebih suka mengisap darah di dalam rumah daripada di luar rumah dan menyukai tempat yang agak gelap. Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia daripada binatang. Tidak seperti nyamuk lain, Ae. aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali sampai lambung penuh berisi darah dalam satu siklus gonotropik sehingga sangat efektif sebagai penular penyakit (Sungkar, 2005a). Setelah mengisap darah, Ae. aegypti hinggap (beristirahat) di dalam rumah atau kadang-kadang di  luar rumah, berdekatan dengan tempat berkembangbiaknya. Tempat hinggap yang disenangi ialah benda-benda yang tergantung seperti pakaian, kelambu atau tumbuh-tumbuhan yang dekat dengan tempat perkembangbiakannya. Biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab. Di tempat tersebut nyamuk menunggu proses pematangan telurnya. Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakkan telurnya di dinding tempat berkembangbiaknya sedikit di atas permukaan air (Sungkar, 2005a).

           

Tempat perkembangbiakan Ae. aegypti adalah kontainer yang mengandung air jernih atau air yang sedikit terkontaminasi seperti bak mandi, drum, tangki air, tempayan, vas bunga, perangkap semut dan tempat minuman burung. Ae. aegypti menyukai tempat perkembangbiakan yang tidak terkena sinar matahari langsung dan tidak dapat hidup pada tempat perkembangbiakan yang berhubungan langsung dengan tanah (Sungkar, 2005a).

 

Keberadaan Ae. aegypti di suatu tempat berhubungan dengan kebutuhan manusia untuk menampung air. Pada suatu daerah dengan sistem penyediaan air pipa yang baik, populasi Ae. aegypti lebih rendah karena masyarakat tidak perlu menampung air. Namun ada pula daerah dengan sistem penyediaan air yang  baik ternyata masih banyak yang menggunakan bak mandi untuk menampung air. Hal ini disebabkan kebiasaan masyarakat terutama masyarakat Asia yang lebih senang mandi dengan menggunakan gayung daripada shower (Sungkar, 2005a).

 

Jumlah larva Ae. aegypti di dalam tempat berkembang biak dipengaruhi oleh kasar halusnya dinding kontainer, warna kontainer dan kemampuan kontainer menyerap air. Pada kontainer yang kasar, gelap dan mudah menyerap air, jumlah telur yang diletakkan lebih banyak sehingga larva yang terbentuk juga lebih banyak. Jumlah larva  Ae. aegypti juga dipengaruhi oleh ukuran kontainer dan jumlah air yang terdapat di dalamnya. Tempat penampungan air yang besar dan banyak berisi air lebih banyak mengandung larva bila dibandingkan dengan kontainer yang kecil dan jumlah airnya sedikit (Sungkar, 2005b).

 

Perkembangan larva terutama dipengaruhi oleh suhu dan ketersediaan makanan di tempat perkembangbiakan. Di laboratorium pada keadaan optimal yaitu cukup makanan dan suhu air 25-27°C perkembangan larva adalah 6-8 hari. Larva mati pada suhu  kurang dari 10°C atau lebih dari 40°C. Perkembangan larva tidak begitu banyak dipengaruhi oleh pH tempat perkembangbiakan (Sungkar, 2005a).

 

Pada musim penularan mungkin hanya beberapa nyamuk saja dari populasi Ae. aegypti yang menjadi vektor. Nyamuk akan menjadi vektor apabila :

1.       ada orang yang sakit sebagai sumber penularan

2.       umur nyamuk lebih dari 10 hari

3.       nyamuk harus menggigit orang

4.       jumlah nyamuk harus banyak

5.       nyamuk harus tahan juga terhadap virus (Sugito, 1990).

 

komentar
Search
Silahkan Login untuk menulis komentar pada artikel ini, atau klik menu "Daftar Member" bagi yang belum menjadi anggota agar anda bisa mengirim artikel atau komentar di situs ini

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Artikel Terbaik

Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini885
mod_vvisit_counterKemarin1345
mod_vvisit_counterMinggu ini3376
mod_vvisit_counterBulan ini9954
mod_vvisit_counterTotal556823

Anggota LOGIN



Anda akan dibayar 0,10$ periklan yang kamu klik
Komisi klik 10 iklan perhari 0,10$, jika 20 referal klik 10 iklan komisi 2.00$,kalo setiap hari komisi 2.10$, jadi perminggu komisi 14.70$ Buktikan sendiri!!

CO.CC:Free Domain
DOMAIN Gratis Tanpa Syarat
Mau domain gratis untuk website anda

Tamu RC Sekarang

Ada 15 tamu online

Jumlah Anggota

Total Members : 1244
Latest Member : DivingHurghada
Members Online : 0
Today : 2 Registers
This Week : 6 Registers
This Month : 18 Registers

Hub.0819.0368.1012