Batik sebagai Warisan Budaya
|
Bangsa Indonesia pada tanggal 2 Oktober baik pegawai negeri, pegawai swasta, masyarakat umum diharapkan mengenakan baju batik. Hal tersebut sebagai bentuk ungkapan kegembiraan dan kebanggaan bangsa Indonesia karena UNESCO (badan pendidikan dan kebudayaan dunia) akan mengukuhkan batik sebagai warisan budaya nonbenda.
Saya sendiri yang sedang magang di salah satu institusi pemerintah di Depok diharapkan melakukan hal yang sama yaitu mengenakan baju batik pada tanggal tersebut di atas. Saya sendiri agak kaget karena tidak ada persiapan baju batik sebelumnya yang ditinggal di kampong. Akhirnya dengan sukarela dan setengah memaksa harus berputar-putar mencari baju batik yang artinya merogoh kocek yang tak terduga.
Anjuran menggunakan baju batik selaras dengan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada semua gubernur di seluruh Indonesia agar mengimbau warganya mengenakan batik pada tanggal 2 Oktober. Akhirnya ditindaklanjuti instruksi gubernur ke bawah termasuk kepada pegawai negeri, swasta dan masyarakat umum.
Permasalahan batik telah lama menjadi ganjalan bangsa kita, karena negara tetangga telah mempatenkan batik ini. Beruntung berbagai negara mengakui bahwa batik Indonesia mempunyai ciri khas sendiri dalam corak, warna, dan keindahannya. Selain itu kita juga mempunyai batik tulis dan cap yang berbeda dengan batik yang diproduksi dalam jumlah besar dengan cara cetak. Beruntung akhirnya batik menjadi warisan budaya Indonesia ketiga yang diakui dunia, menyusul wayang (2003) dan keris (2005) yang ditetapkan UNESCO sebagai karya agung budaya lisan dan tak benda warisan manusia.
Sudah sewajarnya kalau kita menggunakan baju batik sebagai pakaian resmi yang sejuk dan berakar dari budaya bangsa kita sendiri. Selain itu yang perlu dilanjutkan adalah pengenalan batik ini dari proses pembuatan dan alat-alat yang dipakai kepada generasi muda sehingga tumbuh rasa cinta terhadap budaya local kepada generasi muda. Jangan sampai terjadi kita belajar batik harus pergi ke luar negeri karena bangsa Indonesia tidak ada penerusnya dalam seni membatik.
Dampak lain yang dirasakan adalah semakin ramainya pemakaian batik berimbas pada permintaan batik yang meningkat. Permintaan tersebut akan menghidupkan produsen yang berimbas kepada lowongan kerja masyarakat. Jadi mari berbagga dengan budaya kita sendiri.
Silahkan Login untuk menulis komentar pada artikel ini, atau klik menu "Daftar Member" bagi yang belum menjadi anggota agar anda bisa mengirim artikel atau komentar di situs ini
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
Artikel Terbaik
Komentar Baru
Pengunjung
![]() | Hari ini | 0 |
![]() | Kemarin | 1318 |
![]() | Minggu ini | 0 |
![]() | Bulan ini | 15858 |
![]() | Total | 356240 |
Anggota LOGIN
Artikel Terbaru
Komisi klik 10 iklan perhari 0,10$, jika 20 referal klik 10 iklan komisi 2.00$,kalo setiap hari komisi 2.10$, jadi perminggu komisi 14.70$ Buktikan sendiri!!

DOMAIN Gratis Tanpa Syarat
Mau domain gratis untuk website anda
Tamu RC Sekarang
Ada 64 tamu onlineJumlah Anggota
Total Members : 924Latest Member : IvGeordgyJR
Members Online : 0
Today : 0 Registers
This Week : 0 Registers
This Month : 33 Registers

Hub.0819.0368.1012
Pdf
Print
Email 






Belajarlah dari real...
link:http://www.amandaiec.com/ If th...
Keindahan Masa Kecil
link:http://www.amandaiec.com/ With ...
Fenomena Golput
Yesterday was Chinese 32 Arbor Day. ...
Keris Empu IbLiS
Set the power of the whole link:http...
Gangguan Jiwa Pasca ...
According to the statistic data link...